berita69.org, Jakarta - Aksi kejahatan digital scam tidak lagi hanya memanfaatkan sistem untuk menjerat korbannya.
Namun juga menggunakan modus psikologis.
Hal tersebut telah diungkap (OJK) Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan lima modus pelaku.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Tengah (Kalteng) Primandanu Febriyan Aziz mengatakan, ada lima modus psikologis utama yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan pembohongan atau scam untuk memanipulasi korban.
OJK Catat Kerugian Akibat Pembohongan Keuangan Tembus Rp 9 Triliun
“Pelaku scam umumnya tidak hanya mengandalkan teknologi terbaru, tetapi juga memainkan sisi psikologis korban.
Dan ada lima faktor utama yang sering dimanfaatkan,” kata Primandanu, dikutip dari Antara, Rabu (14/1/2026).
Advertisement
Dia menjelaskan, modus pertama adalah ketidaktahuan korban.
Dalam skema ini, pelaku contohnya berpura-pura menjadi petugas resmi, seperti petugas pajak, kepolisian, atau pihak yang mengaku mengurus layanan publik seperti Surat Izin Mengemudi (SIM).
“Korban yang kurang memahami prosedur sering kali langsung percaya ketika dihubungi oleh pihak yang mengaku sebagai aparat atau pejabat tertentu,” ujarnya.
Modus kedua adalah kepanikan atau ketakutan.
Pelaku biasanya menyampaikan informasi mendesak bersifat emosional, seperti kabar anggota keluarga mengalami kecelakaan, sakit keras, atau sedang membutuhkan biaya segera.
“Korban dibuat panik sehingga emosinya tidak stabil.
Dalam kondisi itu, pelaku dengan mudah mempengaruhi korban untuk mentransfer uang atau melakukan tindakan tertentu,” jelasnya.
Selanjutnya, modus ketiga memanfaatkan faktor kesepian, yang kerap terjadi dalam kasus love scam.
Menurutnya, pelaku membangun kedekatan emosional melalui media sosial atau platform digital, kemudian secara perlahan meminta bantuan finansial.
Dia mengingatkan, agar masyarakat lebih waspada terhadap kekuatan pengelabuan di era media sosial, karena foto maupun identitas digital sangat sekali mudah dimanipulasi.
Kemudian modus keempat adalah keserakahan, yakni keinginan memperoleh keuntungan besar dalam waktu singkat dengan modal kecil.
Tawaran investasi tidak masuk akal, pinjaman berbunga rendah, atau iming-iming keuntungan instan sering menjadi pintu masuk penyamaran.
“Keinginan untuk untung cepat ini sering dimanfaatkan pelaku.
Padahal, prinsip dasar keuangan adalah semakin besar imbal hasil, semakin besar pula risikonya,” ujarnya.
